Tuesday, September 14, 2010

Blog Baru!

Akhirnya saya membuat blog baru yang sedikit lebih serius. Blog ini berisi segala sesuatu tentang perjalanan saya, entah itu foto, kuliner, travel story, dan lain-lain. Semoga blog baru saya ini lebih sering diupdate. Amin :)

Mampir yuk ke Blog Baru Saya

Sunday, May 16, 2010

Menyusuri Pantai Di Desa Sawarna


Pantai pasir putih yang indah dipadu dengan ganasnya ombak Laut Selatan dapat Anda temui di Desa Sawarna. Susuri pantainya, maka Anda akan jatuh cinta.


Berada dalam perjalanan selama 9 jam dari Jakarta, beberapa jam diantaranya terguncang-guncang akibat jalanan yang rusak, tidak menyurutkan semangat saya untuk mengunjungi Desa Sawarna. Saya selalu berkeyakinan bahwa semakin susah sebuah tempat untuk dikunjungi maka tempat itu akan semakin indah. Dan lagi-lagi keyakinan saya tidak salah. Desa Sawarna punya jajaran pantai terbaik yang akan memuaskan Anda.


Desa Sawarna adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Desa yang berarti satu warna ini terletak di ujung provinsi Banten dan berada tepat di 237 km Barat Daya Jakarta. Desa Sawarna berpenduduk sekitar 5.700 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan, selain menjadi peternak hewan seperti kambing dan kerbau.


Hawa petualangan sudah terasa sewaktu saya tiba di Desa Sawarna. Untuk memasuki desa, saya harus meniti jembatan gantung sepanjang 50 meter yang membelah Sungai Sawarna. Jembatan yang menghubungkan desa dengan jalan raya ini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor atau dengan berjalan kaki. Saya harus berjalan pelan dan memegang tali jembatan dengan hati-hati karena jembatan akan bergoyang jika dilalui. Setelah berhasil melewati jembatan, maka perjalanan saya menyusuri pantai dimulai.


Alangkah menyenangkan jika perjalanan menyusuri pantai dimulai dengan berburu matahari terbit di Pantai Ciantir. Bunyi gemuruh ombak menyambut kedatangan saya. Kelembutan pasir putih di Pantai Ciantir seakan sebuah permadani penyambutan bagi pengunjung yang ingin menikmati matahari terbit disana. Sang mentari yang muncul perlahan dari balik jajaran pucuk pohon nyiur dengan latar belakang langit yang bersih adalah pemandangan mempesona yang bisa Anda dapatkan.


Setelah matahari sudah mulai meninggi, saya mulai mengeksplorasi Pantai Ciantir. Pantai ini memiliki garis pantai sekitar 3 km dan berada di ujung selatan Desa Sawarna. Di Pantai Ciantir ini Anda dapat melihat jajaran perahu nelayan sehabis melaut yang dicat dengan warna-warni cerah. Perahu-perahu ini ditambatkan tak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan yang menempati bangunan yang sederhana.


Di Bulan Agustus–September, jika beruntung, Anda akan disuguhi pemandangan para peselancar yang bergerak lincah diantara ombak. Pantai Ciantir memang terkenal memiliki ombak Laut Selatan bergelombang besar yang cocok untuk berselancar. Tak heran, Pantai Ciantir merupakan salah satu tujuan favorit peselancar dari mancanegara. Puas menikmati keahlian para peselancar menaklukan ombak, saya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Layar.


Pantai Tanjung Layar ditandai oleh dua buah batu besar yang menyerupai layar kapal. Batu Layar ini letaknya terpisah dari pantai kira-kira sejauh 50 meter. Di belakang Batu Layar terdapat gugusan karang yang memanjang yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Dari bibir pantai, Anda dapat dengan mudah menyeberang untuk mencapai batu Tanjung Layar. Tapi jika air laut sedang pasang, Anda mungkin akan mengalami kesulitan menyeberang. Di Batu Layar ini Anda perlu berhati-hati. Ombak disini begitu besar dan ganas. Lengah sedikit, anda bisa terseret ombak. Namun Pantai Tanjung Layar adalah tempat terbaik untuk memuaskan hobi fotografi anda. Keunikan bentuk batu layar dan karang pemecah ombak dapat menjadi obyek foto yang menarik. Atau Anda bisa mencoba memotret sang ombak yang terpecah di sela-sela karang. Sungguh luar biasa!


Pantai di Tanjung Layar yang berbatu-batu ini juga terdapat banyak fosil kerang dan batu hias. Anda bisa mengumpulkan fosil kerang ini untuk penghias akuarium Anda di rumah atau sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Selepas Pantai Tanjung Layar, saya meneruskan perjalanan menuju Pantai Legon Pari. Untuk menuju Pantai Legon Pari, saya harus melewati sebuah karang besar yang menjorok ke laut. Oleh warga setempat, karang ini dinamai Karang Bodas. Untuk melalui Karang Bodas, saya harus melalui medan yang agak sulit. Banyak batu besar dan juga karang yang menyulitkan perjalanan. Anda harus melangkah hati-hati di batu-batuan yang licin. Ombak yang sesekali menghempas membuat Anda harus siap untuk berbasah-basah ria. Sesekali saya juga mendapati ikan-ikan kecil dan binatang laut di sela-sela karang.


Setelah melewati Karang Bodas, Anda akan disuguhi hamparan pasir putih dan tanaman perdu di sisi-sisi pantai. Disini juga terdapat deretan karang unik yang menyerupai gigi. Jangan berhenti, lanjutkan perjalanan Anda dan temukan kesejukan Pantai Legon Pari.

Seperti pantai lainnya, Pantai Legon Pari berpasir putih. Pantai ini relatif cukup sepi dari pengunjung, hingga seolah-olah Anda sedang berada di pantai pribadi saja. Di Pantai Legon Pari Anda bisa bermain air di tepi pantai atau sekedar duduk-duduk santai di pasir putih nan lembut sambil melepas dahaga dengan air kelapa muda yang segar. Pemandangan ke laut lepas dengan ombak yang tak jemu-jemu menghempas pantai akan Anda dapatkan disini, ditambah bonus pemandangan Pantai Taraje di kejauhan.

Selain Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar dan Pantai Legon Pari, Desa Sawarna juga memiliki pantai Pulau Manuk. Pantai Pulau Manuk terletak agak jauh dan lebih ramai pengunjung.


Menyusuri Gua

Selain wisata pantai, Desa Sawarna juga terkenal dengan guanya. Salah satu gua yang bisa Anda kunjungi adalah Gua Lauk. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai Gua Lauk. Jalan yang naik dan turun cukup menguras tenaga. Tetapi segala kelelahan terbayar dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Hamparan sawah yang menguning dengan sungai yang mengalir dengan jernih khas pemandangan pedesaan. Rasakan kesegaran di kaki Anda ketika menyeberangi sungai.


Sebelum memasuki gua, saya harus menyeberangi sungai sedalam paha orang dewasa. Bagi Anda yang baru pertama kali memasuki gua seperti saya mungkin akan terkejut. Gua Lauk sangat gelap sehingga harus menggunakan penerangan. Dasar gua berlumpur tebal dan terisi air membuat saya harus eksta keras berusaha menyusuri gua hingga ke dalam. Di dalam Gua Lauk saya melihat banyak stalaktit. Stalaktit merupakan batu berbentuk kerucut yang menggantung di langit-langit gua. Stalaktit ini terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengkristal. Bagian dalam gua ini juga dihuni oleh kelelawar yang menggantung di langit-langit gua dan berbau tidak sedap. Pengalaman pertama saya memasuki gua lauk ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Selain menyusuri pantai dan gua, desa sawarna juga memiliki keindahan bukit dan persawahan. Anda bisa berjalan-jalan di pematang sawah yang hijau cerah yang memanjakan mata. Sekedar berjalan-jalan di Desa Sawarnapun bisa Anda lakukan. Penduduk Desa Sawarna ramah dan murah senyum akan menyambut Anda dengan terbuka sehingga Anda akan merasa nyaman.

Tidak diragukan lagi, Desa Sawarna adalah tempat yang harus anda kunjungi. Keindahan pantai, gua dan alamnya akan memuaskan jiwa petualang Anda.


Cara Mencapai Desa Sawarna

Ada beberapa alternatif transportasi yang dapat dipilih untuk mencapai Desa Sawarna. Dari Jakarta, Anda bisa menaiki bus ke Pelabuhan Ratu. Dari Pelabuhan Ratu ada kendaraan Elf yang akan langsung mengantarkan Anda ke Sawarna dengan membayar ongkos sekitar Rp. 20.000. Anda juga bisa menaiki bus jurusan Jakarta – Serang dengan tarif sekitar Rp. 20.000. Dari Serang menuju Bayah dapat dicapai dengan menggunakan Elf bertarif Rp. 25.000. Untuk mencapai Desa Sawarna, dari Bayah Anda dapat menaiki ojek motor dengan membayar ongkos sekitar Rp. 30.000.


Tips

  • Desa Sawarna memiliki banyak tempat menarik yang dapat dikunjungi. Jika Anda memiliki waktu sedikit, usahakan memulai mengeksplorasi Desa Sawarna sejak matahari terbit sehingga banyak tempat yang Anda dapat kunjungi.
  • Untuk menyusuri pantai di Desa Sawarna siapkan bekal minuman dan makanan kecil yang mencukupi karena jarang sekali ada warung yang menjual minuman dan jaraknya pun cukup jauh.
  • Pakailah pakaian dan alas kaki yang nyaman karena perjalanan menyusuri pantai cukup jauh dengan medan yang agak sulit.
  • Jika ingin menyusuri goa, lebih baik meminta bantuan warga desa yang mengenal baik medan dan sudah berpengalaman menyusuri goa. Di musim hujan sebaiknya tidak memasuki goa karena air relatif lebih tinggi sehingga menyulitkan perjalanan menyusuri goa.
  • Selalu waspada dan hati-hati ketika berada di pantai. Patuhi batas aman untuk berenang dan tidak memaksakan diri untuk berenang ketika air pasang dan ombak besar. Pantai-pantai di Sawarna memiliki ombak yang besar, jika tidak berhati-hati Anda bisa terseret ombak.
*Artikel ini pernah dimuat di Majalah Sekar Edisi 23 tahun 2010

Friday, August 28, 2009

Pulau Tidung, Sang Surga Lembayung


Menjelajah Pulau Tidung, Sang Surga Lembayung

Teks dan foto oleh Made Wahyuni

Pulau Tidung adalah salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang bisa ditempuh dalam waktu 2,5 jam dari Jakarta. Disini Anda akan menemukan surga lembayung, dimana matahari terbit dan terbenam selalu tampak mempesona dalam keindahan yang serupa kahyangan.



Bau amis khas pelabuhan menyambut ketika saya tiba di Pelabuhan Muara Angke. Saya harus berjalan sedikit melalui sebuah jalan kecil untuk sampai ke Dermaga Muara Angke yang dipenuhi oleh jejeran perahu nelayan dan perahu angkutan ke Pulau Seribu. Perahu-perahu yang bertuliskan nama tujuan pulau seperti layaknya angkutan kota di Jakarta ini berjajar rapi menunggu penumpang. Karena perahu yang akan membawa saya ke Pulau Tidung sudah penuh dengan penumpang yang sebagian besar adalah rombongan Travel Writing Class hingga ke atap, saya akhirnya mengambil tempat di bagian belakang perahu. Perahu tujuan Muara Angke – Pulau Tidung ini bertarif Rp. 33.000 sekali jalan.

Jangan bayangkan perahu ini seperti kapal Feri yang menyediakan kursi untuk duduk. Disini tidak disediakan kursi, hanya disediakan tikar untuk alas duduk. Walaupun dilengkapi dengan toilet, saya tidak merekomendasikan Anda untuk menggunakan toilet tersebut. Toilet di kapal ini hanya berbentuk kotak kecil sebesar badan manusia dengan lubang WC yang langsung menuju ke laut. Atap WC ini pun terbuka sehingga beresiko diintip oleh penumpang lain yang duduk di atap perahu. Tapi kalau Anda sudah kebelet, ya apa boleh buat.

Sedikit saran bagi Anda yang suka mabuk laut, selain meminum obat anti mabuk, Anda bisa mengambil tempat duduk di bagian belakang atau di dekat jendela perahu. Udara laut yang segar akan mencegah Anda terkena mabuk laut. Atau Anda juga bisa duduk di atap perahu dengan konsekuensi kulit Anda akan terbakar matahari yang sangat terik.

Setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam, sampailah saya di Pulau Tidung Besar. Kami langsung berjalan kaki menuju penginapan Lima Saudara. Penginapan ini terdiri dari lima rumah yang masing-masing terdapat satu atau dua kamar. Satu rumah kira-kira bisa oleh diisi 6-7 orang. Hanya dengan membayar Rp. 200.000/malam Anda akan mendapatkan rumah dengan fasilitas yang cukup lengkap. Ada tempat tidur, kamar mandi, televisi, tempat cuci piring, kompor, TV, kipas angin dan karpet busa. Uniknya, di dinding kamar ditempel kata-kata mutiara.

Pulau Tidung Besar, dengan jumlah penduduk sekitar 4000 jiwa dan wilayah seluas 106,90 Ha termasuk dalam kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Penduduk Pulau Tidung kebanyakan berasal dari Banten dan Bugis. Sebagai wilayah administratif, Pulau Tidung juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti Sekolah Dasar, Madrasah, SMP dan SMK dan juga Puskesmas. Dari hasil perbincangan seorang teman dengan seorang guru di kapal, banyak penduduk Pulau Tidung yang berhasil menjadi sarjana. Dari 4000 penduduk Pulau Tidung, 100 orang adalah sarjana. Walaupun hidup di pulau terpencil, ternyata pendidikan masih merupakan hal yang utama bagi penduduk Pulau Tidung.

Sehabis makan siang, saya dan teman-teman melakukan perjalanan menjelajah Pulau tidung dengan sepeda yang disewakan seharga Rp. 10,000/hari. Untuk Anda yang tidak bisa naik sepeda tidak usah khawatir. Di Pulau Tidung juga ada becak yang siap mengantarkan Anda berkeliling pulau. Menyusuri Pulau Tidung menggunakan sepeda ternyata bukan hal yang mudah. Selain Anda harus berhati-hati karena Pulau Tidung termasuk pulau yang padat dan banyak anak-anak, jalurnya yang berpasir juga akan menyulitkan Anda. Belum lagi undakan-undakan yang harus dilewati sungguh merupakan tantangan tersendiri.

Jajaran ilalang dan pohon nyiur menghiasi jalur sepeda yang kami lalui. Kami sempat berhenti di beberapa spot pantai yang cantik. Air laut yang kehijauan tampak kontras dengan biru langit yang cerah. Belum lagi pasir putih yang berkilau diterpa matahari. Sungguh merupakan pemandangan surgawi. Puas berfoto dan berenang, kami beristirahat di tepi pantai sambil minum air kelapa muda yang baru dipetik. Segarnya air kelapa muda menghilangkan dahaga kami setelah bersepeda.

Kami melanjutkan perjalanan lagi menyusuri perkampungan di Pulau Tidung. Menyusuri jalan-jalan di perkampungan Pulau Tidung Anda akan mendapati beberapa hal menarik seperti tempat pembuatan perahu nelayan tradisional dan juga balai pembibitan benih ikan. Anda juga bisa mengamati aktivitas para penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan ini. Setelah bersepeda beberapa saat kemudian, sampailah kami di ujung Pulau Tidung Besar yang disebut penduduk sebagai Tanjungan.

Di Tanjungan ini saya mendapati sebuah jembatan kayu sepanjang 1 km yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Ada dua buah rumah-rumah kayu yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Disini saya dan teman-teman memulihkan tenaga sehabis bersepeda seharian sambil menunggu matahari tenggelam. Jangan lupakan kamera Anda kalau berkunjung ke Pulau Tidung ini. Pemandangan lembayung sore berwarna jingga sayang jika tidak diabadikan. Matahari yang perlahan turun dengan warna nuansa jingga cantik. Air laut yang diterpa sinar mentari nampak keemasan. Angin sore pelabuhan yang sejuk menambah suasana magis nan syahdu. Puas mengabadikan matahari tenggelam, kami bersepeda kembali ke penginapan.

Esok harinya, jam 5 pagi kami bersepeda lagi ke Tanjungan untuk mengejar matahari terbit. Seperti pemandangan matahari tenggelam, detik-detik suasana matahari terbit di Pulau tidung juga mampu membuat saya terkagum-kagum. Sinar matahari yang memancar malu-malu dari balik awan dengan paduan warna biru, jingga dan putih merupakan lukisan alam yang tiada duanya. Sehabis mengabadikan Sang Matahari, kami sarapan pagi bersama di atas jembatan kayu dan beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Tidung Kecil.

Pulau Tidung Kecil
Memasuki Pulau Tidung Kecil, terdapat jalanan berkonblok hingga ke Balai Penelitian benih. Di sisi kanan dan kiri tumbuh pohon-pohon besar dan rindang sehingga membuat jalanan teduh. Saya membayangkan bersepeda di jalan ini dengan menggunakan rok putih panjang menjuntai dan juga topi lebar persis seperti bintang film jaman dahulu.

Sekitar lima menit bersepeda, sampailah saya di Balai Pembibitan Tanaman. Balai ini adalah tempat pembibitan tanaman seperti kelapa, sukun dan lain-lain. Disini saya beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Makam Panglima Hitam. Bersepeda menuju ke Makam Panglima Hitam adalah rute yang paling saya sukai. Disini kita harus bersepeda di jalan setapak menembus ilalang yang rimbun hingga memenuhi jalan. Jika Anda bersepeda dengan lebih cepat, sensasi menabrak ilalang tidak kalah dengan sensasi naik wahana Niagara di Dunia fantasi.

Sampai di persimpangan jalan, saya ambil arah belok ke kiri dan tibalah saya di Makam Panglima Hitam. Panglima Hitam adalah orang pertama yang menginjak Pulau Tidung. Menurut literatur yang saya baca, Panglima Hitam yang bergelar Ratu Pangeran Baduy adalah seorang panglima perang dari Cirebon yang kalah perang dan melarikan diri hingga terdampar di Pulau Tidung. Menurut Bapak Suherman, sang penjaga makam, proses penemuan makam ini berawal dari mimpi. Dalam mimpi itu ditunjukkan bahwa ada makam Panglima Hitam di Pulau Tidung Kecil, sehingga akhirnya makam ditemukan dan dirawat hingga saat ini.

Beberapa langkah dari makam Panglima Hitam ada sebuah sumur yang dinamakan Sumur Bawang. Sumur ini dipercaya penduduk dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Orang yang berkunjung ke tempat ini sering membawa air dari Sumur Bawang untuk digunakan sebagai obat. Puas melihat Sumur Bawang, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai.

Jalan menuju pantai ini merupakan jalan setapak membelah rimbunan ilalang. Kami berjalan menyusuri pantai hingga tiba di sebuah pantai yang menjorok ke laut. Dari kejauhan tampak pulau kecil yang menurut pemandu kami dinamakan Pulau Gosong. Penuh ingin rasa tahu yang mendalam tentang pulau tersebut ditambah hasrat berendam di air laut yang belum kesampaian membuat saya tak sabar berjalan menyusuri laut menuju ke Pulau Gosong.

Anda yang tidak bisa berenang seperti saya tidak perlu khawatir. Air laut disini hanya sebatas paha orang dewasa dan tidak berombak besar. Yang menarik di sini adalah Anda dapat melihat dengan jelas ikan berwarna-warni cerah melintasi kaki. Walaupun agak sulit untuk melakukan snorkeling disini karena airnya pendek, tetapi melihat ikan berwarna-warni melintasi karang adalah pemandangan yang sungguh menakjubkan. Oh iya, jangan lupa tetap memakai alas kaki ketika menyusuri pantai. Disini banyak ditumbuhi karang yang cukup tajam dan sakit jika terkena kaki.

Hampir mendekati Pulau Gosong, makin banyak karang sehingga menyulitkan saya berjalan. Belum lagi banyak bulu babi di sela-sela karang. Beruntung, ada seorang bapak yang sedang membawa perahu di Pulau Gosong. Dia sedang mencari barang bekas bersama kedua anaknya yang mencari Keong Hujan untuk dimakan. Bapak itu dengan baik hati menjemput kami dengan perahunya sampai ke tepi Pulau Gosong sehingga kami tidak terkena karang maupun Bulu Babi. Tidak banyak yang bisa dilihat di Pulau Gosong. Pulau Gosong hanyalah tumpukan karang bercampur sampah yang membentuk sebuah daratan kecil. Disini Anda dapat melihat burung camar laut berwarna putih terbang lalu lalang diatas kepala anda, kontras dengan birunya langit.

Puas menjelajahi Pulau Gosong kami kembali ke makam Panglima Hitam untuk mengambil sepeda menuju Balai Penelitian Benih. Di depan balai kami minum air kelapa muda sambil berteduh di pohon yang rindang sebelum kembali ke penginapan. Ini adalah perjalanan terakhir saya menjelajahi Pulau Tidung. Kembali ke penginapan saya bersiap-siap untuk perjalanan kembali ke Jakarta.

Perjalanan yang singkat menjelajahi Pulau Tidung tidak mungkin saya lupakan. Dalam perjalanan pulang, keindahan lembayung sore masih terbayang dan saya berharap suatu saat nanti dapat kembali lagi ke Pulau Tidung.

Tips Mengunjungi Pulau Tidung :
1. Pakailah pakaian yang menyerap keringat karena udara di Pulau Tidung sangat panas. Memakai topi juga sangat disarankan.
2. Jangan lupa untuk selalu memakai sun block jika tidak ingin kulit anda terbakar matahari.
3. Sediakan lotion anti nyamuk. Di malam hari banyak nyamuk yang akan mengganggu tidur anda.
4. Periksa sepeda yang ingin anda sewa. Pilihan sepeda yang dilengkapi keranjang akan memudahkan untuk menaruh barang bawaan Anda selama bersepeda.
5. Kenakan selalu alas kaki selama berada di jembatan kayu di Tanjungan untuk menghindari kaki anda terkena serbuk kayu yang tajam.


Note : Tulisan ini juga bisa Anda baca di Majalah CHIC No. 44 Tahun 2009 :)

Tuesday, March 31, 2009

MENCUMBU KEINDAHAN KOTA PALU

Dalam rangka perjalanan dinas dari kantor, saya berkesempatan mengunjungi Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dari Jakarta saya berdua dengan rekan kerja saya, Adi, menggunakan pesawat Lion Air selama 2 jam sebelum transit di Kota Makassar. Saya sempat terkesima dengan Bandar Udara Sultan Hasanudin, Makassar. Bandara ini adalah bandara paling keren dari semua bandara yang pernah saya singgahi di Indonesia. Bandara Sultan Hasanudin tampil dengan design modern, bersih dan serba teratur. Bandara Internasional Soekarno Hatta pun tidak mampu mengimbangi kecanggihan Bandara Hasanudin. Oh iya, ngomong-ngomong soal Bandara Internasional Soekarno Hatta….

Sewaktu saya tiba di Terminal 1A Cengkareng, saya melihat beberapa spanduk yang berisikan tulisan bahwa toilet di bandara baru. Penasaran seperti apakah toiletnya, saya langsung saja cek ke toilet di dekat counter check in dan langsung bertanya-tanya “hmm….yang baru apanya ya?”. Toiletnya masih jorok dan bau. Hal yang sama pun saya dapati di toilet boarding room. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, toilet yang mana ya yang baru? Ada yang bisa kasih tau??

Tentang Pesawat
Oke, lanjut ke perjalanan saya ke Palu. Setelah sempat menunggu karena pesawat delay selama hampir satu jam, saya melanjutkan perjalanan ke Palu dengan menggunakan pesawat Wings Air. Hmm, jika kamu termasuk orang yang suka mencela pesawat yang buruk rupa, coba saja naik pesawat Wings Air ke Palu ini. Pesawatnya kecil, dengan tempat duduk di kiri 3 orang dan di kanan 2 orang (biasanya 3-3 kan ya?). Kursinya pun canggih, dalam artian bantalan tempat duduknya terpisah dengan kursinya dan suka merosot sendiri. Jika saya bersandar di jendela, maka saya bisa memenyok-menyokan dinding di samping jendela. Belum lagi goyangan pesawat yang aduhai dan landing yang menakjubkan. Pilot pesawatnya jago banget mengerem sejadi-jadinya sewaktu pesawat mau berhenti sehingga badan penumpang ikutan tertarik ke depan dengan sempurna. Untung saja pesawat kosong dan saya bisa pindah tempat duduk sehingga bisa melihat pemandangan dari atas pesawat yang keren abiss.

Saya tiba di Bandara Mutiara yang bangunannya beda tipis sama bangunan SD Inpres jam 14.30 waktu setempat. Ada pemandangan unik di Bandara Mutiara. Sewaktu saya mendarat saya melihat ada kerumunan orang melihat kearah landasan. Saya sempat mengira ada sesuatu atau mungkin ada orang penting yang datang sehingga perlu disambut. Setelah saya lihat lagi ternyata tidak ada apa-apa. Mereka hanya penjemput atau pengantar yang melihat dari anjungan bandara. Saya sempat mengusulkan ke teman saya, Adi, untuk dadah-dadah kearah kerumunan tersebut. Biar berasa kayak seleb. Langsung saja si Adi menolak dengan sukses ide saya itu. Hehehehe :(

Kota Palu suasananya hampir sama dengan kebanyakan kota-kota kecil lainnya di Jawa. Kota Palu dikelilingi oleh gunung dan laut. Sejauh mata memandang hanyalah gunung, sehingga kalo kita berjalan seakan-akan menembus gunung. Saya sempat melewati Pantai Taman Ria di malam hari, karena relatif dekat dengan hotel tempat saya menginap. Malam hari banyak warung-warung di pinggiran pantai dengan lampu-lampu yang indah. Hari pertama saya di Kota Palu saya belum bisa kemana-mana karena masih mengurusi acara kantor sampai jam 1 malam. Kota Palu lumayan ramai di malam hari, banyak mobil dan motor berseliweran hingga lewat tengah malam. Namun sayang, lampu-lampu jalannya mati semua ditambah lagi sering mati listrik. Tambah gulita lah kota ini.

Wisata Kuliner
Malam harinya saya makan malam dengan menu ikan bakar dan ikan kuah asam di rumah makan MJM di Jalan Setiabudi. Ikannya besar-besar dan enakk. Yang paling enak adalah kuah asamnya, Makk nyuss. Rasa sambalnya juga enak dan segar. Makan malam yang sempurna enaknya……

Keesokan harinya, seusai acara kantor, barulah saya bisa berjalan-jalan di Kota Palu. Mendung pekat yang bergelayut dan gerimis yang membasahi Kota Palu tidak menyurutkan semangat saya berjalan-jalan di Kota Palu. Pemberhentian pertama adalah Rumah Makan Kaledo Stereo di Jalan Diponegoro. Kaledo adalah masakan khas Kota Palu, yaitu sop kaki lembu Donggala. Rasanya ueennakk tenan. Rumah makan ini sering didatangi oleh selebritis lokal, terlihat dari foto-foto selebritis yang sedang makan disana memenuhi dinding. Contohnya saja duo Maia dan Mey Chan. Saya sangat merekomendasikan makan disini jika kamu berkunjung ke Kota Palu. Usai makan, kami menyusuri pantai Taman Ria dan Pantai Taseli dan berfoto-foto sejenak di Jembatan Kuning.

Malamnya kami pergi ke Restoran Ayam Goreng Diponegoro untuk makan malam. Restoran ini menyajikan menu ala masakan Sunda seperti ayam goreng, lalapan, dan lain-lain. Menurut saya sih biasa, karena saya sudah pernah makan yang lebih enak lagi. Tapi mungkin bisa dicoba untuk variasi makanan. Kelar makan malam, kami pergi ke Pantai Taman Ria. Di depan Hotel Palu Golden banyak penjual duren lokal. Kami sempat mencicipi beberapa buah duren lokal yang manis dan enak. Seru juga, menyantap duren di tengah hujan diiringi deburan ombak Pantai Taman Ria.

Kejarlah Pantai Kau Terlambat
Ada kejadian yang lucu di hari terakhir saya di Kota Palu. Pesawat saya yang akan membawa saya ke Makassar dijadwalkan take off jam 07.10 waktu setempat. Nah, ceritanya weker di Handphone saya tidak berbunyi (atau udah bunyi tapi saya yang enggak denger yah?). Jadi jam 6 kurang saya baru check out. Abis check out, bukannya langsung ke bandara malah foto-foto Pantai Taman Ria dulu. Ini memang obsesi saya karena saya belum sempat foto-foto pantai di Kota Palu. Sudah puas foto-foto barulah kami menuju Bandara. Sampai di Bandara ternyata semua penumpang sudah masuk pesawat. Jadilah saya dan Adi terbirit-birit check in dan lari ke pesawat. Sampai di pesawat semua penumpang sudah siap berangkat. Akhirnya dengan tertunduk malu dan berjalan pelan-pelan, saya dan Adi masuk pesawat diiringi tatapan ingin membunuh dari semua penumpang Wings Air. Hihihihihi.

Selepas kurang lebih satu jam kemudian kami tiba di Bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Kebetulan, karena duduk di belakang, kami turun lewat tangga sehingga saya punya kesempatan untuk berfoto di depan Bandara Sultan Hasanudin. Saya punya banyak kesempatan untuk berjalan-jalan mengagumi bandara lebih lama sebelum akhirnya pesawat membawa saya kembali ke Jakarta.

Oh iya, sampai di Jakarta saya langsung disambut kemacetan di tol bandara. Ihiks, jadi ingin kembali lagi ke Palu :(

*terima kasih saya ucapkan kepada kantor saya tercinta selaku sponsor utama perjalanan saya ini :(

Monday, March 30, 2009

Thank You and I'm Sorry guys :)

Udah lama banget saya nggak meng-update blog ini. Soalnya sempet sebel sih sama aturan membuat gmail dan sebagainya. Jadi blog ini terabaikan deh. Akhirnya setelah lama banget, kangen juga ngeblog lagi. Mulai deh mencari-cari username dan password account Gmail saya. Dan setelah saya buka, woww...ada beberapa email yang masuk ke gmail dari beberapa teman yang kebetulan membaca blog saya ini.

Maaf banget...bukannya saya sombong, tapi ya gitu deh, emang saya baru buka aja lagi blog ini. Maafkan daku ya temans :)

Sebagai gantinya, saya posting lagi cerita perjalanan saya yang belum sempat saya posting disini.
Makasih yaaa :)

Buat :
Fadya, Ary Indira, Kevin, Benny Artha, Psikex Extream dan Unet Yusuf ; maaf ya baru bales email kalian :)

Wednesday, June 20, 2007

Antara Museum Gajah dan Patung Jamur


Saya kembali lagi ke museum. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Museum Nasional atau yang lebih sering disebut Museum Gajah. Dari tempat pertemuan kami di Pasaraya Blok M, kami naik “bisnya Bang Yos”, yaitu Bis Transjakarta dan turun di Halte Museum Nasional. Dengan membayar tiket seharga Rp. 750,- kami bisa melihat-lihat koleksi Museum Nasional. Ada patung, keramik sampai ke koleksi tempat tidur Dewi Sri. Tempat tidur Dewi Sri ini adalah koleksi kesukaan saya. Tempat tidur Dewi Sri ini adalah tempat pemujaan kepada Dewi Sri yaitu Dewi Kesuburan. Pada jaman dahulu, setiap rumah di Jawa khususnya, pasti ada tempat tidur Dewi Sri-nya. Menarik sekali.

Sayang, karena terlalu siang ke Museum Nasional [atau terlalu lama foto-foto ya? ;)] kami tidak sempat melihat semua benda-benda yang ada di Museum Nasional ini, karena Museum Nasional tutup jam 13.30. Sayang sekali, seharusnya untuk weekend museum harusnya tutup lebih sore karena pengunjung lebih banyak. Waktu kami keluar museum, ada beberapa wisatawan asing yang baru datang dan harus kecewa karena museum sudah tutup.

Seniman Patung Dadakan
Di sebelah Museum Nasional terdapat Gedung Galeri Nasional. Kebetulan kemarin sedang diadakan pameran tunggal kelima dari Iriantine Karnaya. Banyak jamur-jamur bertebaran di pelataran gedung. Ada yang besar, kecil sampai ke balon jamur. Kami yang tadinya hanya berniat memfoto jamur-jamur itu akhirnya malahan ikut dalam workshop membuat patung jamur. Jadilah kami menjadi seniman patung jamur dadakan. Kami mengenakan celemek berwarna hitam, dan diberi sebongkah tanah liat berwarna abu-abu. Kami dibebaskan berkreasi membuat jamur atau benda-benda lain yang kami suka. Saya membuat taman jamur. Mengasyikan sekali. Membuat bentuk jamur dari tanah liat dan menghasilkan bentuk-bentuk yang lucu. Walaupun tangan saya belepotan tanah liat, tapi saya senang karena ini adalah pengalaman pertama saya menjadi “pematung” ;).

Setelah karya selesai, kami diharuskan menuliskan proses kreatif kami di selembar kertas dan dikumpulkan. Setelah selesai kami mendapat sertifikat, goody bag dan foto bersama ibu Iriantine Karnaya. Seru abiss…

Berakhir di Jalan Sabang
Kelar belajar mematung, kami menuju ke Monas alias Monumen nasional. Niat hati ingin naik ke puncak Monas, tapi karena sudah sore, kami hanya berhasil naik sampai ke cawannya saja dan tentu saja berfoto-foto J
Capek berfoto-foto dan lapar, kamipun naik taksi menuju ke Jalan Sabang, menikmati wisata kuliner (halah). Saya makan pecel ayam yang sambelnya mak nyusss….

Wah, benar-benar jalan-jalan yang seru. Dengan ide sederhana mengunjungi Museum Gajah, saya dapat pengalaman seru menjadi pematung jamur. Jadi pengen jalan-jalan lagi. Selanjutnya kemana ya?

Tuesday, May 01, 2007

Wisata Benteng di Cilacap


Setelah tertunda sekitar setahun lamanya, akhirnya saya kesampaian juga mengunjungi Cilacap bersama sahabat saya, Ivo. Kami berangkat dengan mobil travel seharga 120 ribu rupiah dari Jakarta, sekitar jam 7 malam dan tiba di Cilacap sekitar jam 8 pagi. Setelah leha-leha sebentar, mbak Vera, kakaknya Ivo yang menjadi tempat kami menumpang selama di Cilacap, langsung mengajak kami ke Pantai Teluk Penyu, mumpung udara belum terlalu panas. Akhirnya dengan naik motor kami menuju ke pantai yang ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kos mbak Vera. Karena diantara saya dan Ivo tidak ada yang bisa naik motor, maka mbak Vera mengantarkan kami bergantian. Saya mendapat giliran pertama diantarkan ke pantai Teluk Penyu.

Pantai Teluk Penyu adalah pantai yang ramai dikunjungi wisatawan dan penduduk sekitar di hari libur. Menurut mbak Vera, di pagi hari banyak kegiatan yang dilakukan di pantai ini, seperti olahraga bersama misalnya. Tetapi sewaktu saya sampai disana acara olahraga rupanya sudah selesai. Saking lamanya saya tidak melihat pantai, hal pertama yang saya lakukan adalah melepas sandal, dan dengan kaki telanjang menyusuri pantai sambil membasahi kaki dengan air laut. Nikmattt.....


Tidak beberapa lama, Ivo dan mbak Vera datang. Kami langsung melanjutkan berjalan menyusuri pantai. Tidak beberapa kami berjalan, ada seorang nelayan menghampiri kami menawarkan mengantarkan menyeberang ke Pulau Nusa Kambangan. Saya langsung antusias menerima ajakan nelayan itu. Ivo dan mbak Vera sempat ragu-ragu untuk ikut karena ombaknya agak besar, tapi dengan bujuk rayu saya dan iming-iming nelayan bahwa pantainya bagus, akhirnya mereka ikut juga.

Kami menyeberang dengan menggunakan perahu nelayan dengan membayar ongkos 10 ribu PP. Mau tau rasanya? yahh...seperti naik niagara 10 menit, Hehehehe. Sampai di Pulau Nusa Kambangan, kami diantarkan Pak Heri masuk ke pulau untuk melihat benteng. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Jarak 2 km kami lewati dengan susah payah karena jalanannya setapak dan dengan jalur naik dan turun. yah, kayak naik bukit deh. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya selesai juga. Kami akhirnya menemukan Benteng Karang Bolong. Benteng sisa penjajahan Belanda itu masih berdiri tegak dan kokoh, walaupun tidak terawat dan berkesan angker. Ruangan-ruangan di dalam benteng diliputi kegelapan, menambah kesan seram. Sempat terselip rasa takut saya ketika kami menuruni anak tangga benteng hanya dengan bantuan senter.

Keluar dari Benteng Karang Bolong, kami melanjutkan perjalanan kembali. Pak Heri bercerita bahwa banyak orang yang datang untuk bersemedi di Pulau Nusa Kambangan. Tidak beberapa kami berjalan, kami menemukan pantai yang indah. Menurut Pak Heri namanya Pantai Karang Pandan. Kami beristirahat (dan berfoto tentunya) di Pantai Karang Pandan menikmati suasana di pantai yang sepi, hanya terdengar debur ombak memecah karang, dan teduh. Suasana yang cocok untuk pacaran (ehem) dan mencari inspirasi. Sayang, kami tidak bisa berjalan menyusuri Pantai Karang Bolong karena saat itu air laut sedang pasang.

Kami menyusuri jalan setapak lagi untuk ke pantai, yang ternyata jalurnya lebih pendek dari jalur kami pertama datang. Sampai di pantai ternyata kapal nelayan kami belum menjemput. Kami menunggu perahu nelayan sambil minum dan duduk di pondok sambil melihat anak-anak asyik berenang. Tepat jam 10.15 WIB, kami pun dijemput oleh perahu dan kembali ke Cilacap.
Kami disambut oleh cuaca panas menyengat dan gerah sekembali kami di Cilacap. Kami kembali ke kos untuk mandi dan beristirahat sampai sore hari.

Malam harinya kami makan malam di Retoran Seafood Teluk Penyu. Ikan Bakar, Cumi Saos Tiram, Udang Bakar dan Cah Kangkung menjadi menu kami dilatari suasana malam di tepi pantai. Mak Nyusss.....

Esok harinya, saya dan Ivo memutuskan untuk melakukan City Tour dengan Becak Pak Min. Tujuan pertama kami adalah Benteng Pendem. Benteng Pendem tidak jauh berbeda dengan benteng yang kami temui di Pulau Nusa Kambangan, hanya saja lebih terawat. Ada barak, bangunan klinik, ruang penjara, ruang tahanan, terowongan dan ruang tempat jenderal-jenderal. Puas mengelilingi benteng, kami melanjutkan tur dengan melihat-lihat kota Cilacap. Ada tempat menjual kerajinan dari kerang, tempat menjual ikan asin. Kami juga menyusuri jalanan besar di Cilacap yang keadaannya sangat jauh berbeda dengan jalanan di Jakarta. Sepi dan lengang, tidak macet, padahal Hari Senin. Kendaraan yang lalu lalang pun tidak sebanyak kendaraan di Jakarta. Benar-benar jalanan impian warga Jakarta seperti saya dan Ivo. Sebelum kembali ke kos, saya dan Ivo mampir ke Jalan Bakung untuk membeli oleh-oleh khas Cilacap.

Kami makan siang di dekat Stasiun Cilacap dengan menu pepes ikan dan sambal ulek. Sambal uleknya top morkotop. Selesai makan siang kami kembali menyusuri jalanan di Kota Cilacap, kali ini dengan berjalan kaki menuju ke Bank Mandiri karena Ivo harus mengurus sesuatu disana. Dari Bank Mandiri kami langsung pulang karena sudah basah kuyup oleh keringat dan kegerahan. Sampai di kos saya langsung mandi lagi dan menghabiskan sisa sore dengan leyeh-leyeh di kamar kos. Jam 7 malam, kami dijemput travel untuk kembali ke Jakarta dan sampai di Jakarta jam 5 pagi.

Saya suka Kota Cilacap, saya suka Pulau Nusa Kambangan. Makasih ya Ivo en mbak Vera atas perjalanan yang menyenangkan ini :)